Aku pulang, kali ini dengan jiwa yang jauh lebih
tenang dan siap melakukan apapun.
***
04.30. Gelap sunyi, hanya terdengar gemericik air
wudlu ibu dengan samar, baiklah aku akan bergegas bangun. Kau tahu? Air dari
sumur sepagi ini selalu hangat meski udara dingin menusuk tulang-tulang,
basuhlah ! Kebekuan akan menjauhi kulitmu.
Ku sisir rambut sembarang saja, berkemas dan siap
pergi. Aku ingin ke pusat kota selagi masih sepi. Takkan lama, dan cukup mudah
menuju kesana. Kota ini, mungil, sejuk dan cukup indah. Barangkali karena
karena cukup tinggi dan dikelilingi gunung-gunung. Tengah hari saat matahari
tengah terik-terinya tak akan terasa menyengat, hangat saja. Perlahan, aku
mulai mencintai kota ku.
Ayahku adalah seorang yang sangat perhatian, tahu aku
hendak pergi, ia bergegas mengeluarkan sepedamotor untukku. Sebentar memanaskan
mesin, lalu ku bawa kendaraan itu keluar desa.
Wsssssssss.. ku terpa udara, atau ia yang menerpaku. Belum
genap lima menit berjalan, angin dingin menyusur lengan bajuku terus naik,
dingin sekali. Begitu pun di kaki. Tanganku, mengendalikan stang entah berat
sekali. Beku.
Aku terlalu meremehkan alam kota ini setelah lama
selalu dimanja. Kali pertama ku kendarai motor terlalu pagi, kurasai kembali kotaku
di sisi amat dinginnya. Beginilah dulu aku mulai mengenal kota kecil ini,
dinginya merajai.
Tetap ku terjang.
***
07.00. Mau apa? Pekerjaan rumah selesai tak ada tugas
apa pun, saat yang tepat duduk di ruang tamu menghadap jendela.
Hal yang tak pernah ku bosani di rumah ini. Teras
rumah ku tidaklah luas, empat meter saja kedepan setelahnya daun pagar
membatasi dengan jalan yang ada dua meter di bawah. Mentereng, meski paling
sederhana rumah ini berada di lebih atas memang.
Aku bersyukur rumah orang tuaku berada di desa, dan
ayahku senang menanam. Maka dari jendela kaca, aku dapat melihat beberapa
tanaman. Bunga Ceplok Piring (Begitu kami menyebut Bunga dengan kelopak putih
besar-besar itu), atau buah terong dan bunga kecil-kecilnya yang ungu, sering
kutemui Pik Mas merah orange di daun daun lebar pohon terong. Ada juga tanaman
lidah buaya, dan ledah mertua hijau kuning yang ujungnya berduri atau
tamam-tanaman kasayangan ibu ku, sereh, jeruk untuk masak, juga cabe-cabean. Beberapa
kali, aku senang memotret satu-dua untuk ku pajang jadi cerita.
Senang sekali dari dalam sini mengamati mereka. Sejujurnya
aku ingin mendekati, namun entahlah aku tidak senang berada di luar dan dilihat
beberapa tetangga. Itu buruk.
Aku tenang kali ini, tidak ada beban yang bersarang di
kepala. Tugasku di salahsatu komunitas kampus selesai, telah kuserahkan pada
generasi selanjutnya. Aku malu memang tidak dapat menjalankan amanah dengan
sempurna, bahkan sangat tidak karuan. Dan kurasa ini yang terbaik,
menyerahkanya kepada yang lebih siap, atau setidaknya ia berani. Aku masih
ingat sekali malam itu di sebuah kafe aku sangat takut dan enggan, entah
bagaimana akhirnya aku menerima dan merasa ketakutan sepanjang tahun. Memang situasinya
berganti dan menjadi sulit kala itu, dan benar juga bahwa aku salah menganggap
amanah itu sebagi beban, menyebalkan.
Haha..itulah tahun terburukku di fakultas, yang
kurasai sepanjang tahun adalah malu, sebal, uring-uringan, marah pada diri
sendiri, takut, dan selalu ragu-ragu. Setiap hari memulai tidur dan bangun
tidur terfikirkan satu hal yang sama. Tak mendapat hasil apa pun. Aku tidak
melakukan apa pun, namun setehun kebelakang aku merasai beban ini dikepalaku.
Sejujurnya, itulah perkumpulan yang paling ku cintai
setiap anggotanya sejak semula. Mungkin karena kami dari golongan yang sama,
namun sejujurnya karena memang merka baik dan apa adanya, menyenangkan, mereka
memahami dan ada.
Memang begitulah aku, meski dikelilingi orang-orang
baik, asal aku tidak memimpin, aku bisa loyal, aku tidak bisa mengkondisikan
orang-orang. Entahlah, aku lebih berani melakukan semuanya sendiri, sedangkan
kami sebuah komunitas. Aku senang mengenal dan ada diantara mereka, aku tidak
menyelesaikan tugasku dengan baik.
Aku meminta maaf pada akhirnya, meski itu tidak cukup
aku merasai mereka faham akan sanggupku. Maka kuputuskan kali ini kumaafkan
diriku sendiri. Aku hidup kali ini, dan dapat tidur nyenyak. Semoga adik-adikku
dapat menjalankan semuanya dengan lebih baik dan bersama-sama, tanpa merasa
terbebani sama sekali.
Aku sangat bersyukur dan berterimakasih karena mereka
ada.
***
Aku tahu ungkapan ini berlebihan, tapi sungguh aku
merasa lebih menjadi diriku kali ini, aku dapat melihat, aku tidak lagi takut.
Bagianku selesai. Aku akan bersedia untuk ada. Terimakasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar