Sabtu, 23 Desember 2017

The End of My Year

Aku pulang, kali ini dengan jiwa yang jauh lebih tenang dan siap melakukan apapun.
***
04.30. Gelap sunyi, hanya terdengar gemericik air wudlu ibu dengan samar, baiklah aku akan bergegas bangun. Kau tahu? Air dari sumur sepagi ini selalu hangat meski udara dingin menusuk tulang-tulang, basuhlah ! Kebekuan akan menjauhi kulitmu.
Ku sisir rambut sembarang saja, berkemas dan siap pergi. Aku ingin ke pusat kota selagi masih sepi. Takkan lama, dan cukup mudah menuju kesana. Kota ini, mungil, sejuk dan cukup indah. Barangkali karena karena cukup tinggi dan dikelilingi gunung-gunung. Tengah hari saat matahari tengah terik-terinya tak akan terasa menyengat, hangat saja. Perlahan, aku mulai mencintai kota ku.
Ayahku adalah seorang yang sangat perhatian, tahu aku hendak pergi, ia bergegas mengeluarkan sepedamotor untukku. Sebentar memanaskan mesin, lalu ku bawa kendaraan itu keluar desa.
Wsssssssss.. ku terpa udara, atau ia yang menerpaku. Belum genap lima menit berjalan, angin dingin menyusur lengan bajuku terus naik, dingin sekali. Begitu pun di kaki. Tanganku, mengendalikan stang entah berat sekali. Beku.
Aku terlalu meremehkan alam kota ini setelah lama selalu dimanja. Kali pertama ku kendarai motor terlalu pagi, kurasai kembali kotaku di sisi amat dinginnya. Beginilah dulu aku mulai mengenal kota kecil ini, dinginya merajai.
Tetap ku terjang.
***
07.00. Mau apa? Pekerjaan rumah selesai tak ada tugas apa pun, saat yang tepat duduk di ruang tamu menghadap jendela.
Hal yang tak pernah ku bosani di rumah ini. Teras rumah ku tidaklah luas, empat meter saja kedepan setelahnya daun pagar membatasi dengan jalan yang ada dua meter di bawah. Mentereng, meski paling sederhana rumah ini berada di lebih atas memang.
Aku bersyukur rumah orang tuaku berada di desa, dan ayahku senang menanam. Maka dari jendela kaca, aku dapat melihat beberapa tanaman. Bunga Ceplok Piring (Begitu kami menyebut Bunga dengan kelopak putih besar-besar itu), atau buah terong dan bunga kecil-kecilnya yang ungu, sering kutemui Pik Mas merah orange di daun daun lebar pohon terong. Ada juga tanaman lidah buaya, dan ledah mertua hijau kuning yang ujungnya berduri atau tamam-tanaman kasayangan ibu ku, sereh, jeruk untuk masak, juga cabe-cabean. Beberapa kali, aku senang memotret satu-dua untuk ku pajang jadi cerita.
Senang sekali dari dalam sini mengamati mereka. Sejujurnya aku ingin mendekati, namun entahlah aku tidak senang berada di luar dan dilihat beberapa tetangga. Itu buruk.
Aku tenang kali ini, tidak ada beban yang bersarang di kepala. Tugasku di salahsatu komunitas kampus selesai, telah kuserahkan pada generasi selanjutnya. Aku malu memang tidak dapat menjalankan amanah dengan sempurna, bahkan sangat tidak karuan. Dan kurasa ini yang terbaik, menyerahkanya kepada yang lebih siap, atau setidaknya ia berani. Aku masih ingat sekali malam itu di sebuah kafe aku sangat takut dan enggan, entah bagaimana akhirnya aku menerima dan merasa ketakutan sepanjang tahun. Memang situasinya berganti dan menjadi sulit kala itu, dan benar juga bahwa aku salah menganggap amanah itu sebagi beban, menyebalkan.
Haha..itulah tahun terburukku di fakultas, yang kurasai sepanjang tahun adalah malu, sebal, uring-uringan, marah pada diri sendiri, takut, dan selalu ragu-ragu. Setiap hari memulai tidur dan bangun tidur terfikirkan satu hal yang sama. Tak mendapat hasil apa pun. Aku tidak melakukan apa pun, namun setehun kebelakang aku merasai beban ini dikepalaku.
Sejujurnya, itulah perkumpulan yang paling ku cintai setiap anggotanya sejak semula. Mungkin karena kami dari golongan yang sama, namun sejujurnya karena memang merka baik dan apa adanya, menyenangkan, mereka memahami dan ada.
Memang begitulah aku, meski dikelilingi orang-orang baik, asal aku tidak memimpin, aku bisa loyal, aku tidak bisa mengkondisikan orang-orang. Entahlah, aku lebih berani melakukan semuanya sendiri, sedangkan kami sebuah komunitas. Aku senang mengenal dan ada diantara mereka, aku tidak menyelesaikan tugasku dengan baik.
Aku meminta maaf pada akhirnya, meski itu tidak cukup aku merasai mereka faham akan sanggupku. Maka kuputuskan kali ini kumaafkan diriku sendiri. Aku hidup kali ini, dan dapat tidur nyenyak. Semoga adik-adikku dapat menjalankan semuanya dengan lebih baik dan bersama-sama, tanpa merasa terbebani sama sekali.
Aku sangat bersyukur dan berterimakasih karena mereka ada.
***

Aku tahu ungkapan ini berlebihan, tapi sungguh aku merasa lebih menjadi diriku kali ini, aku dapat melihat, aku tidak lagi takut. Bagianku selesai. Aku akan bersedia untuk ada. Terimakasih

aku bertanya

Apa jawabmu bila kutanya tentang teman ? ia segalanya bagimu ? atau pengalih sepi mu saja? aku gadis 22 tahun yang memulai ingin mengerti s...