Apa jawabmu bila kutanya tentang teman ?
ia segalanya bagimu ? atau pengalih sepi mu saja?
aku gadis 22 tahun yang memulai ingin mengerti semuanya. Apa pun itu.
ia segalanya bagimu ? atau pengalih sepi mu saja?
aku gadis 22 tahun yang memulai ingin mengerti semuanya. Apa pun itu.
Barangkali sedikit terlambat, namun aku merasa bersyukur akhirnya memiliki kesadaran itu.
pun, tentang yang satu ini. Teman?
tidak jarang aku dibilang 'tidak punya teman'. Lalu aku merasa begitu sendiri, kesepian.
Sedang kenyataanya ? bukan kah aku memang tidak peduli?
temui aku dan kau akan lihat betapa angkuhnya. Maka wajar bukan bila julukan itu ada pada ku.
aku pernah sakit hati sekali karnah sakit hati sekali ketika seseorang berkata pada ku 'wong koyo koe emang due konco?'
lalu, aku berjuang keras mengorbankan segala batasanku untuk dapat di anggap 'punya teman'. Sedang sama sekali aku tidak pernah peduli siapa pun. Itu bodoh sekali.
sedang orang lain mengatakan, aku harus mengenal banyak orang banyak relasi lalu mendapat banyak kemudahan, dimana kala itu aku tetap saja seorang yang penuh 'rikuh' dan tidak enakan. Percuma Saja.
Kemudian di kehidupan ini, aku menghadapi beberapa orang berkelompok dan saling berseteru. Maksudku tidak peduli tak mau memihak siapa pun. Masih dengan aku yang ingin punya banyak relasi dan kemudahan dan penuh rikuh. Tetap ingin mengenal dan 'berteman' dengan siapa pun.
pun, tentang yang satu ini. Teman?
tidak jarang aku dibilang 'tidak punya teman'. Lalu aku merasa begitu sendiri, kesepian.
Sedang kenyataanya ? bukan kah aku memang tidak peduli?
temui aku dan kau akan lihat betapa angkuhnya. Maka wajar bukan bila julukan itu ada pada ku.
aku pernah sakit hati sekali karnah sakit hati sekali ketika seseorang berkata pada ku 'wong koyo koe emang due konco?'
lalu, aku berjuang keras mengorbankan segala batasanku untuk dapat di anggap 'punya teman'. Sedang sama sekali aku tidak pernah peduli siapa pun. Itu bodoh sekali.
sedang orang lain mengatakan, aku harus mengenal banyak orang banyak relasi lalu mendapat banyak kemudahan, dimana kala itu aku tetap saja seorang yang penuh 'rikuh' dan tidak enakan. Percuma Saja.
Kemudian di kehidupan ini, aku menghadapi beberapa orang berkelompok dan saling berseteru. Maksudku tidak peduli tak mau memihak siapa pun. Masih dengan aku yang ingin punya banyak relasi dan kemudahan dan penuh rikuh. Tetap ingin mengenal dan 'berteman' dengan siapa pun.
Hingga malam ini salah seorang yang baik menghubungiku, mengabarkan apa yang orang lain sedang lakukan padaku. bahwa aku sekiranya di manfaatkan seperti apa yang pernah ia dan orang lain alami. Dia baik sekali buakan? ku kira begitulah salah satu cara menjadi 'teman'. Menjaga, saling menguatkan.
Dengan kenyataan bahwa si orang yang sebelumnya terlihat membenciku kini begitu mendekat dan mengakrabi. si orang ini sedikit meyebalkan dan butuh pengobatan hati memang, maka dia dijauhi karib-karibnya. Lalu mendekat pada ku yang 'sendiri' ingin berteman dengan siapa pun meski tidak punya rasa peduli. mendengar kenyataan dibalik itu, sejujurnya aku tidak sakit hati. aku kasihan sebenarnya pada si orang, ia punya penyakit lalu karibnya tidak mampu mengobati meski sudah berusaha dan memilih menjauhi dia. Kasihan bukan si orang?
Jika saja aku orang yang baik dan tulus, aku akan membantunya untuk sembuh. Namun, barang kali aku hanya orang yang tidak nyaman terlihat sediri maka aku hanya minta ditemani olehnya. Namun jujur saja, aku sedikit tidak terima dengan kesan 'bisa dimanfaatkan' atau 'tempat pelarian'. Aku sampah sekali bukan?
Menurutmu, bagaimana orang kesepian seangkuh aku akan berlaku? Mengasihi untuk kemudian di telantarkan?
Atau sabar, menerima, lalu berusaha memperbaiki si orang?
rasanya aku belum sebaik itu.
Aku masih tidak tahan pada tatapan sinis orang, dikasak-kusukan begini-begitu, pun masih tidak peduli pada siapa pun.
Sejujurnya, bukankah beberapa orang memang mendekat hanya untuk memanfaatkan ku? Atau sekedar minta ditemani karena sedang sendirian seperti itu.
Sejujurnya pula, bukankah itu adil ? Aku akan mencari tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar