Semarang, 26 Mei 2018
23:54
Ku kira, kehidupan yang ku jalani
sebelumnya adalah yang paling benar,
Merasa sudah bahagia dan bisa apa
saja dalam keangkuhan.
Hingga aku menemuimu. Kau
tunjukan betapa sepinya kehidupanku, kau tunjukan padaku untuk begini-begitu
agar hidupku lebih bahagia katamu.
Lalu kau entah kemana, bahkan
tidak menjawab pertanyaanku. Lalu, apa maksudmu sebelumnya?
Bodoh sekali bukan aku yang
mengikuti mu?
Aku marah, marah sekali.
Bagiman pun itu, kamu benar. Aku sekarat
dan kesepian.
Percuma saja selama ini akju
berusaha mengenali banyak orang, menemui mereka.
Yang ku tuju hanya aku sendiri,
egois sekali.
Barangkali itu maksudmu, atau
bukan?
Haha.. tidak penting bukan, apa
maksudmu. Toh kamu apa?
Hanya orang yang kutemui di
persimpangan jalan. Lalu, selayaknya terlupakan bukan?
‘Ajaklah beberapa teman agar
hidupmu lebih bahagia’ katamu. Kau sendiri menjauhiku.
Sejujurnya, kau buka mataku pada
hal yang seharusnya ku tahu.
Oke baiklah, terimaksih.
Perlahan-lahan, aku membuka mata,
menerima segalanya. Berusaha menemui mereka dengan pantas.
Kurasai lebih kebahagiaan, dan
sedikit ketenangan. Mungkin itu yang kau ingin aku tahu.
Kau tahu? Itu berarti sekali
untuk ku.
Semakin hari, aku merasa semakin
mendapati yang harusnya ku cari.
Kemudian lagi, ku temui beberpa
di antara mereka dihiasi kebohongan.
Aku ingin menarik diri,
kenyataanya aku lupa cara hidup lama ku.
Lalu kunikmati saja sebagian
kebohongan mereka.
Mau tidak mau, yang terlalu jujur
sepertimu sedidkit menyakitkan bukan?
Meski kebohongan itu
mengecewakan.
Terimakasih, kau membukakan satu
pintu untuk ku tuju lalu pergi tanpa catatan bagimana aku harus bertahan.
Sehingga dapat ku sebut ini
hidupku sendiri, ini caraku sendiri. Setidaknya tidak semua yang ku dapat
adalah hutang kepada mu.
Terimakasih mereka yang melewati
banyak hal bersamaku, membantuku, tanpa meninggalkan.
Dan kamu, semoga bahagia dengan
cara mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar