Aku belumlah seperti yang ku mau, kapan pun mulai sadar gadget lah yang ku perhatikan. Srol scrol scrol, beberapa peringatan obrolan yang masuk adalah dari forum, ku lihat dengan enggan, dan rupanya ada kelas dadakan hari ini.
***
Kau pernah donor darah? Apabila kau memenuhi persyaratan, cobalah. Itu akan menyenangkan. Sebelum berangkat pagi tadi, sudah ku siapkan kartu ku, ini akan jadi yang ke lima, entah mengapa rasanya senang sekali. Aku duduk di depan bapak-bapak yang bertugas, setelah menjarumi jari tengah meneteskan darahku pada kertas yang tak ku mengerti, ia katakan tidak bisa mbak, hb anda terlalu rendah. Ah, ini adalah kedua kalinya aku ditolak setelah sebelumnya dikarenakan tensi darah ku yang tidak normal. Baiklah, masih ada hari esok, toh harusnya waktu ini aku ke perpustakaan, mengembalikan buku-buku yang sudah lewat batas ku pinjam. Ah, siapa tahu akan kutemui pengumuman esok hari ada stand donor darah di depan gedung perpustakaan seperti biasa. Masih bisa ku prbaiki tingkat hemoglobinku dulu.
Ku lanjutkan langkah menyusuri gedung-gedung kampus yang cukup megah. Berjalan seorang saja, tiba tiba terfikirkan akan mereka, oarang-orang yang beberapa kali pernah kutemui. Siang ini tiba-tiba penguasa forum merevisi pertemuan kami. Sedikit menyebalkan memang. Namun begitulah, kau harus menjadi penurut, lalu pantas disebut berprestasi.
***
Sejak dulu, aku selalu senang memasuki gedung semacam ini, meski dalam suasana hening dan aku datang sendirian tidak pernah aku merasa sepi dan khawatir di tempat ini. Menapaki setiap anak tangga penuh semangat, aku tahu akan kena denda pagi ini, tidak masalah akan terganti dengan cerita baru yang nantinya dapat kuselami.
Semula ingin ku bawa serta laptop di tasku, mencari novel sembari mencari bahan tugas akan memudahkan ku kufikir, namun urung dan bersyukur karena benda itu ku titipkan juga.
Menuju meja pengembalian, mataku mendapati seseorang yang duduk membelakangiku, seakan tak asing semacam logat tubuh yang pernah beberapa kali kutemui. Bahkan salah seorang yang tadi sempat terfikirkan adalah dia bukan? Sembari menunggu daftar pinjamku dibersihkan kuamati sosok itu,warna kulit yang sama, baju yag senada, dan iya itu dia.
Kalian, saat tanpa sengaja bertemu seseorang yang kau kenal akan kau sapa bukan? Sedikit berbincang, atau setidaknya memberi senyum sembari menyebut namanya. Aku pun ingin melakuka hal yang sama, namun tidak. Sekilas kulihat dia berusaha keras mencari letak referensi buku pada layar yang begitu baik dan setia. Ku putuskan pura-pura tak tahu dan langsung menuju rak favorit. Bukan mengapa, selain aku tidak begitu mengenalnya aku pernah malu karena tidak memahami dia yang ternyata taat.
Kala itu,aku menghadiri acara yang diadakan olehnya. Dia menyambut dengan sapa yang ramah, namun karena aku datang terlambat maka kuputuskan untuk langsung memilih tempat duduk. Aku dan seorang teman duduk di samping dua undangan laki-laki yang ku kenal. Kau tahu? Banyak rekanya disana, namun dilah yang membawakan acara, menyapa semua tamunya, hingga membenarkan posisi microphone yng tidak tepat. Di tengah acara dia menyepa kami menyalami satu-persatu, ketika dia tiba di hadapanku, tentu saja kuajukan tangan untuk bersalaman. Malu sekali, dia tersenyum menangkupkan telapak tangan dan menariknya di depan dada mengabaikan tanganku yang terbuka untuknya. Hei! Aku ini wanita, dan tanganku telah diabaikan. Sangat malu bukan? Salahku lah yang terlambat sadar bahwa semua yang duduk sebelumku adalah laki-laki, mengira akan diperlakukan dengan sama.
Dua orang sebelumku langsung saja menanyakan hal itu, memuji dia yang menolak bersalaman dengan wanita. Dia bilang memang berusaha untuk itu. Dia taat dan multi.
Jadi, aku harus menyapanya? Aku tidak ingin malu lagi. Meskipun kami berada pada saf rak yang sama, tentu saja aku takkan menyapanya terlebih dahulu.
Meski hanya melirik sekilas dapat kupastikan itulah dia, berdiri beberapa langkah di sampingku, bahkan bila diluruskan sebenarnya kami saling berhadapan. Logatku ku pura-purakan serius, sembari mataku menelusuri setiap bagian rak barangkali satu dua buku yang menarik akan terlihat. Dalam jarak hanya beberapa meter itu, kupastikan ia melakukan hal yang sama tanpa kepura-puraan. Tentu saja dia tidak tahu keberadaan ku disana bukan? Kuliat dia sangat serius dan begitu gigihnya mencari buku, entah apa yang jelas bukan bacaan semacam novel seperti yang ku incar.
Sejujurnya, rak pertama yang ku hampiri memang rak novel aku senang sekali mengikuti novel apapun. Tak lama kemudian kudapati dia bangkit dari kursi pencarian referensi buku menuju du arak di depan ku. Dengan mencuri-curi kulihat ia menuju rak 800 yang jauh, selain karena memang aku juga hendak memperbaiki pola studiku aku malu kalau-kalau saja ia melihatku hanya datang untuk mencari novel, maka kuputuskan untuk menuju rak dimana akan ku temukan buku-buku sesuai konsentrasi studiku, rak 900. Dan ya, kudapati ia di sana.
Kuambil satu buku yang kufikir meski sedikit, akan mendukung belajarku kemudian aku menuju rak sesungguhnya, haha novel. Dia masih terlihat sibuk kesana-kemari berusaha menemukan yang ia cari, hingga aku menemukan novel dengan pengaranmg yang sama seperti novel yang ku baca sebelumnya ku ambil, dan ku cari tempat untuk duduk sebentar memastikan isi buku di tanganku.
Kubacai, beberapa isi buku pertama ternyata sesuai dengan tema yang ku cari. Tak ku putuskan segera pulang, entahlah masih betah saja duduk disana, kau ingat? Meski senidirian. Selain itu, aku ingin menungguinya. Entah mengapa.
Selagi aku masih melarut-larutkan diri dalam apa yang ku baca, tenggorokanku mulai terasa gatal. Mengapa harus terusik pada saat demikian?. Aku mulai terbetuk sekali dua. Karena ku tahan-tahan aku khawatir kalau kalau batukku tak dapat ku kedalikan lagi hingga membuat gaduh. Bisa jadi dia akan terganggu pula dan menyadari aku disana. Semakin khawatir, aku segera menutup buku-buku dan mengangkut keduanya menuju meja peminjaman.
Dengan melirik, kulihat sekilas tubuh tinggi kurus berbaju coklat menuju ku, berjalan ke meja peminjaman. Dia. Segera saja kuubah arah hadapku membelakangi dia, ini adalah kepura-puraan yang kesekian kalinya. Menghadap berlawanan seolah-olah mengamati suasana perpustakaan di lain sisi kala itu. Sesungguhnya aku sangat berharap proses peminjaman buku ku akan berlangsung lama lalu aku akan menghadap kearahnya, berpura terkejut mendapati dia sembari menyapa, tersenyum mengucapkan namanya.Urung. Telah ku tuliskan sebelumnya, aku tidak ingin menanggung malu untuk kedua kali. Tidak ku pungkiri juga, sikap ku ini begitu sombong.
Selesai. Kuterima bukuku senormal mungkin mengucapkan terimaksih, lalu terburu-buru pegi tanpa menghadap ke samping. Sial sekali, kakiku menginjak kaki salahsatu pengantri. Tentu saja kuucapkan maaf sekenanya. Ah, aku tampak grogi bukan? Kusempatkan sedikit menengok ke belakang, dia masih disana matanya terpaku pada bukunya ditangan ibu petugas. Syukurlah, dia tidak mengerti. Atau, mungkin memang sengaja tak acuh.
Menuju keluar, kuambil tas yang ku titipkan, masih juga mencuri lihat sudahkah ia hendak keluar? Ya, dia sudah menuju meja penitipan. Aku mulai menuruni tangga, menatap keatas kemungkinan akan kudapati tubuh kurus itu. Namun nihil. Kamana dia? Sudahlah, toh malam nanti kami akan bertemu bukan? Ya, bertemu dalam keadaan yang sama. Tak saling menyapa.
Aku berjalan pulang sembari mencari gambar apa yang tepat untuk ku pasang pada cerita whats appku, ada! Klik send. Kau tahu? Ketika sampai ku dapati dia lah orang kedua yang membacai cerita itu. Kukira dia segera pulang dengan motornya, namun bagaimana seseorang mengendarai sepeda motor sembari menatapi cerita di gadget?.
***
bercerita dengan sejuta gubahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar