Malam selalu menjadi saat yang tepat untuk menuai rasa,
mengungkapkan segalanya, sendu senang gelisah atau apa pun yang menekan jiwa. Menjemput
kesyahduan.
Banyak yang ingin ku ungkap kali ini, segala rasaku dari
malam-malam kemarin.
Deru angin dari kipas yang sengaja kuhidupkan dengan
kencang, menerpaku. Gemuruhnya meski cuckup keras namun tak menutup suara gerak
daun yang tertiup angin dari luar yang masih dapat ku dengar sayup. Kali ini
aku duduk sendirimenghadap layar,merelakan sedikit malam tidurku untuk menulis. Ya aku mencoba menulis. Meski selalu
dan selalu saja seperti ini. Sulit.
Masih juga ku fikirkan banyak hal, kekhawatiran yang bisa
jadi memang tidak ada artinya. Aku merasa takut membayangkan apa jadinya. Sejak
awal aku memag tidak pernah siap, aku memang takut, dan kalah. Dan aku begitu
malu telah menerima segalanaya dengan begitu polos, terburu-buru tanpa mengerti
apa pun juga. Aku menyesal atas ‘iya’ –ku kala itu. Aku ciut dan manjadi
pengecut.
Kau pasti sadar bahwa aku tak pantas, kau tahu bukan? Namun mengapa
kalian semua diam? Tolong katakan padaku, ambil semua yang telah ku terima. Aku
tidak sanggup. Tidak pantas.
Bantu aku, jangan menuntut apa yang aku tak tahu. Bahkan kau
ingkar bukan? Sungguh aku ingin berhenti.sekarang juga. Sejak dahulu.
Jika kau bacai kata-kataku ini, maka tolonglah aku. Ajarkan bagaimana
harus kuletakan ini dengan baik, tentu kau juga berharap siapa pun yang akan
menggenggamnya nanti adalah orang-orang yang tepat.
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar